Thursday, July 26, 2012

SISTIM EKONOMI POLITIK YANG BERWATAK OTORITER DAN ANTI RAKYAT

SEGERA KUBUR ORDE BARU DAN BANGUN ORDE DEMOKRATIS KERAKYATAN

(oleh : dr. R. Ciptaning P.) *

ORDE BARU SEBAGAI SEBUAH SISTIM EKONOMI POLITIK YANG BERWATAK OTORITER DAN ANTI RAKYAT

Gerakan rakyat yang tertindas selama 32 tahun dibawah sistim orde baru
adalah gerakan yang melawan penindasan itu sendiri. Gerakan yang
berawal dari sebuah kritik terhadap pemerintahan Soeharto yang
merampas kekuasaan dari tangan pemerintahan Soekarno yang sah lewat
sebuah kudeta militer, didukung oleh mahasiswa angkatan 66,--yang
tergabung dalam KAMI dan KAPI dengan dalih Soekarno telah terpengaruh
oleh faham-faham komunis pada waktu itu,--awalnya membangkitkan
kesadaran sebagian dari eksponen mahasiswa angkatan 66 itu sendiri.
Dengan cepat angkatan Soe Hok Gie (untuk membedakan dengan angkkatan
66) dapat melihat secara kritis kesalahan angkatan 66 itu bahwa
mahasiswa ternyata telah ditunggangi oleh kepentingan Soeharto dan
Amerika untuk melakukan pembantaian terhadap orang-orangg kiri
(komunis, sosialis dan nasionalis kiri) dengan tujuan untuk memastikan
keamanan Amerika di Asia Tenggara. Sejumlah tulisan iliha lewat
berbagai penelitian telah dilakukan oleh beberapa intelektual seperti
Wertheim, Peter Dale Scott, Harold Crouch dan berbagai tulisan lainnya yang selama Rezim Diktaktor Soeharto berkuasa menjadi barang haram untuk dibaca dan dikaji.

Langkah pertama Soeharto setelah memanipulasi SUPER SEMAR adalah
melakukan politik adu domba di kalangan rakyat yang menyebabkan 3 juta
jiwa (menurut pengakuan Sarwo Edi) kaum komunis, sosialis dan
nasionalis kiri menjadi korban keganasan fascisme Soeharto. Sebagian
berada dalam kamp-kamp tahanan Orde Baru di kota-kota besar hampir di
seluruh Indonesia dan di Pulau Nusa Kambangan dan Pulau Buru. Hal
inilah yang membuka mata Soe Hok Gie dan yang lainnya, bahwa mahasiswa telah ditunggangi oleh Angkatan Darat pada waktu itu dipimpin oleh Soeharto sebagai pengemban SUPER SEMAR. Lewat sebuah sidang MPR yang telah direkayasa oleh petinggi-petinggi Angkatan Darat pada waktu itu, setelah pidato pertanggungjawaban Soekarno di tolak maka Soeharto dikukuhkan sebagai Presiden. Sebagai sebuah epilog dari skenario
perebutan kekuasan lewat kudeta.

Setelah berkuasa maka Soharto dengan cepat membubarkan KAMI dan KAPI yang terlihat mulai sadar akan nasib mahasiswa yang menjadi pecundang gerakan yang dibiayai oleh CIA. Badan inteljen Amerika berperan besar dalam beberapa percobaan pembunuhan Soekarno. Badan ini dibiayai oleh pemilik-pemilik modal besar Amerika dan pemerintahan Amerika yang memang dari dulu sangat anti Soekarno yang bercita-cita untuk membangun masyarakat adil dan makmur berbasiskan Sosialisme Indonesia berdasarkan pada UUD 45 dan Panca Sila. Jelas Soekarno adalah
penghambat bagi kepentingan pemilik modal asing (meminjam istilah
Soekarno sendiri : Neo Kolonialis dan Imperialisme). Pada waktu Orde
Baru berkusa sejak awalnya jelas dilandasai oleh kepentingan pemilik
modal besar. Kapitalismelah yang menjadi landasan filosofi bagi orde
baru, sebagai antitesa dari sistim sosialis yang di bangun oleh
Soekarno dan founding father lainnya.

Setelah orde baru berkuasa penuh dengan filosofi pembangunannya
sebagai baju kapitalisme maka rangkaian program politik dibangun untuk
memperkuat kediktaktorannya. Beberapa ekonom lulusan Amerika diajak
(yang dengan licik akhirnya juga disingkirkan oleh Soeharto menjelang
kejatuhannya) untuk menjadi think-tank program-program ekonominya.
Kekuasaan diktaktor Soeharto juga , terus terang saja diperkuat oleh
angkatan darat yang semakin menguat ditubuh ABRI. dengan bekal DWI
FUNGSI sebagai legitimasi untuk mengawasi rakyat, menakut-nakuti
rakyat bahkan melakukan penangkapan-penangkapan dan serangkaian
pembunuhan politik terhadap kaum sipil maupun militer yang mulai
sadar dan kritis terhadap Soeharto. Keduanya, ekonomi dan politik
berada dalam satu jalur komando langsung dari diktaktor Soeharto yang
berkuasa penuh sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Lemaga-lembaga ilegal
bikinan Soeharto dari KOPKAMTIB sampai BAKORSTRANAS didukung oleh aparatus intelejen BAKIN, BAIS dan BIA yang di bawah komando Soeharto langsung menjadi gada pemukul rakyat yang mencoba kritis dan melawan. Dengan stikma eksrim kanan, ekstrim kiri, eksrim tengah sampai GPK, tetap menjadi hantu-hantu yang diciptakan oleh Soeharto dan aparatus orde barunya dari awal berkuasa sampai menjelang kejatuhannya,--bahkan sampai sekarang tetap diberlakukan untuk tetap bisa mempertahankan bangunan Orde Baru yang sudah hampir runtuh. Bahkan setelah tidak berkuasa lagi aparatus orde baru yang tersisa di dalam tubuh ABRI dan Birokrat tetap memelihara teror, penculikan, pemenjaraan, pecah-belah dan adu homba dengan isu SARA.

Dwi fungsi adalah konsepsi dan praktek yang sangat bertentangan dengan
rakyat dan Sapta Marga ABRI sendiri. Tentara Dwifungsi adalah tentara
yang menginjak-injak perjuangan luhur Panglima Besar Sudirman karena
selama 32 tahun menjadi alat penindas dan pembantai rakyat karena
telah menjadi Watchdog dari pemilik modal. Sebagain besar
perusahaan-perusahaan besar menggunakan perwira-perwira aktif maupun
purnawirawan duduk sebagai komisaris atau direksi. Mereka di gaji
untuk menjaga perusahaan dan mempermudah perusahaan untuk melakukan ekspansi. Perwira-perwira menanam saham dalam apa yang dinamakan tugas kekaryaan mereka. Sampai tingkatan terendah (satpam dan sistim security lainnya) dari sebuah perusahaan besar dapat ditemui baju hijau yang makan dari gaji pada pemilik-pemilik modal. Adalah benar
bahwa kolusi terbesar dan terkuat di Indonesia dilakukan oleh
Kapitalis dan tentara dan selama 32 tahun menjadi sah oleh DWI FUNGSI
yang dipelihara oleh Soeharto. Dengan DWI FUNGSI, Soeharto berhasil
menumpulkan cita-cita Sudirman terhadap tentara,--yaitu sebagai tentara
rakyat.

Pembangunan sebagai baju filosofi dilengkapi dengan Pancasila dan UUD
45 yang telah dimanipulasi dalam satu paket doktrin P4, harus berjalan
diatas logika modal. Kesadaran kritis yang coba tumbuh akan berhadapan
dengan program de-politisasi yang secara nyata dan terang-terangan
tanpa tahu malu memerkosa hak-hak rakyat di semua sisi kehidupan :
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan,
secara legal dilakukan dan menjadi sah di atas nilai, hukum dan aturan
yang berlaku di seluruh sendi kehidupan masyarakat selama 32 tahun.

Penyimpangan tadinya mungkin berawal dari lingkaran elit politik dan
militer saja namun perlahan-lahan penyimpangan-penyimpangan seperti
Kolusi, Korupsi, Nepotisme, Pungli masuk merasuk dan meluas sampai
keseluruh tingkatan masyarakat dan menjadi sebuah nilai moral baru
yang harus diterima secara wajar dalam sistim Orde Baru yang
seolah-olah berhasil menyelamatkan Indonesia dari kemiskinan dan
kekacauan politik yang di bangun Orde Soekarno. Proyek-proyek besar
didasari konsep-konsep besar dengan iming-iming globalisasi yang
menjanjikan kesejahteraan bagi bangsa Indoesia setiap harinya semakin
kuat menjadi pilar-pilar berdirinya Orde Baru di bawah Pemerintahan
Diktaktor Soeharto. Boom Minyak ditahun 70-an menutup mata semua orang
seakan-akan bangsa ini akan sangat siap untuk tinggal landas.

Investasi modal asing dan hutang luar negeri diklaim sebagai sebuah
keniscayaan yang bisa mempertipis jurang kemiskinan dan membangun
kelas menengah baru. Sektor pertanian yang pada awal orde baru
dijanjikan sebagai target prioritas pembangunan harus berhadapan
dengan penggusuran lahan-lahan produktif untuk diganti dengan industri
dan pendukung industri seperti waduk-waduk raksasa yang memelaratkan
jutaan rakyat pedesaan yang menjadi miskin akibat ambisi serakah dari
kepentingan modal yang dipoles dengan modernisasi desa dan peningkatan
sumber daya manusia dari petani menjadi buruh=97yang juga diperas dengan
upah murah bahkan diekspor keluar negeri secara sah.

Di bidang politik Golkar yang pada awalnya dibangun oleh angkatan
darat untuk melawan Soekarno, menjadi kekuatan politik terbesar di
bawah Orde Baru. Golkar memilik hak melebihi dua Partai lainnya yang
dibentuk sebagai hasil fusi ( baca : kontrol dan injak) yang
direkayasa oleh angkatan darat diktaktor Soeharto. Golkar dengan
dukungan ABRI dan Birokrat Orde Baru yang pada perkembangan berikutnya
berhasil menyeret sebagian kekuatan agama dalam hal ini Islam menjadi
satu kekuatan yang melegitimasikan sistim Orde Baru yang semakin lama
semakin serakah menelan investasi asing dan hutang luar negeri.
Semenjak berdirinya Orde Baru Islam telah dimanipulasi oleh Soeharto
dan aparatus orde barunya untuk terlibat mensahkan sebuah sistim
politik hipokrit yang anti rakyat. Tujuannya adalah sebagai tameng
moral dan agama untuk melaksanakkan praktek-praktek Kolusi, Korupsi
dan Nepotisme. Kenyataan pahit ini tidak akan pernah bisa dihapus dari
sejarah bahwa Soeharto dan orde Barunya adalah berhasil memutar
balikkan nilai-nilai luhur dan perjuangan Islam untuk pembebasaan.

Golkar telah bekerja sebagai kekuatan konsolidatif semua kekuatan
Islam untuk mendukung sistim yang sebenarnya menjadi musuh bagi
cita-cita Islam. Islam-Islam Orde Baru yang lahir tumbuh dan disusui
oleh kroni Kapitalisme sangat memusuhi perjuangan rakyat untuk
pembebasan dan sangat mudah dimobilisir untuk di adu domba sesama
rakyat oleh aparatus orde baru..

Golkar sangat pandai dan kuat mengatur serangkaian manipulasi menjadi
sah. Desa-desa yang telah dide-politisasikan tidak diizinkan untuk
dimasuki oleh kekuatan lain selain Golkar. Baik dari aparatus desa
sampai kyai-kyai Golkar adalah senjata ampuh bagi Golkar untuk
menggalang massa rakyat pedesaan. Semuanya itu dibiayai oleh kapitalis
kroni Soeharto.

* dr. R. Ciptaning P. Koordinator Komite Pendukung Megawati-KPM,
seorang dokter yang sedang kehilangan hak prateknya dan pernah
menginap dalam tahanan Orde Baru-Soeharto, dan merasakan berada
di ruang interogator BIA, sebagai konsekwensi dari perjuangan
sebuah keyakinan.

 
Blogger Templates