Pages

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, April 09, 2012

DI BALIK SEJARAH PULAU BARUS


DI BALIK SEJARAH PULAU BARUS

Posted Image

gambar pedagang kapur barus

Tidak banyak orang mengetahui bahwa sesungguhnya Barus merupakan sebuah kota yang banyak menyimpan rahasia.
Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.

Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah (historical archaelogy) di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.

Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa.

Dengan sedikit gambaran tadi ada 3 hal temuan yang terpenting dari Barus, yaitu:

1. Barus, kota pertama masuknya agama Kristen di Indonesia.
Sekelompok penyebar agama Kristen Sekte Nestorian dari Konstantinopel, pusat Kerajaan Byzantium Timur, menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu diperkirakan datang sekitar tahun 600 M dan mendirikan gereja pertama di desa Pancuran (Fansur), Barus. Tidak berapa lama berselang kemudian hari datang juga para pedagang Arab ke Barus dan mereka membawa agama Islam ke Barus.

Menurut Prof. W.B. Sijabat, orang Kristen Nestorian telah masuk ke Barus dalam abad VII M. Barus atau Fansur ini dicatat oleh seorang penulis Kristen Nestorian bernama Shaik Abu Saleh al Armini dalam satu dokumen penting dalam bahasa Arab yang ditulis dalam abad XII M dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1895. Di dalam dokumen ini dicatat bahwa telah ada
orang Kristen Nestorian sejak abad ke-7 di Fansur, Barus (Sijabat,
2007:34-35). Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia juga memercayai sejak tahun 645 Masehi di daerah Barus telah masuk umat Kristen dari sekte Nestorian. Keyakinan tersebut didasarkan pada buku kuno tulisan Shaikh Abu Salih al-Armini. Sementara itu, penjelajah dari Armenia Mabousahl mencatat bahwa pada abad ke-12 telah terdapat Gereja Nestorian di Barus (Kompas, 01/04-2005).

2. Barus, kota pertama masuknya agama Islam di Indonesia.
Pedagang Arab memasuki Barus sekitar 627-643 M atau sekitar tahun 1 Hijriah, dan menyebarkan agama Islam di daerah itu. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin, bernama Syekh Ismail akan ke Samudera Pasai dan singgah di Barus, sekitar tahun 634 M. Sejak itu, tercatat bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau
Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya “Silsilatus Tawarikh.” (Wanti, 2007).

Baru pada tahun 1978, sejumlah arkeolog dipimpin Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog juga pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, meyakini bahwa Islam sudah masuk sejak tahun 1 Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat sejarawan lokal Dada Meuraxa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya bahwa tulisan pada nisan makam Syekh Rukunuddin itu tahun 48 Hijriah. Pengukuhan itu dikuatkan lagi dalam seminar pada 29-30 Maret 1983 di Medan menyimpulkan Barus merupakan daerah pertama masuknya Islam di Nusantara. (Wanti, 2007).

Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab.

Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007). Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu (Kompas, 01/04-2005).

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama
di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab. Demikian hasil temuan G.R. Tibbets yang telah melakukan penelitian dengan tekun. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika (Ridyasmara, 2006).

3. Barus, kota tertua di Indonesia.
Barus amat mungkin merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk digunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 thn Sebelum Masehi (Kompas, 01/04-2005).

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Prancis bekerjasama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua, Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak,
Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya. Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus sangatlah makmur (Kompas, 01/04-2005). Prasasti yang ditemukan di Lobu Tua, Barus dibuat tahun 1088 dalam bahasa Tamil. Prasasti itu menyebutkan bahwa paling sedikit semenjak abad ke-11, telah bermukim di kota Barus sebuah koloni bangsa Tamil. Menurut batu Lobutua itu, mereka tergabung dalam sebuah perusahaan, terkenal dengan nama ”kelompok 500″ yang tidak asing lagi bagi orang-orang India waktu itu. Perusahaan swasta yang mereka wakili, merupakan perusahaan dagang cuku kuat, merdeka dalam tindakan dan tidak gampang tunduk pada salah satu raja yang berkuasa di sekitar Barus. Mereka yang berdiam di Barus inilah yang membeli beberapa hasil dari rakyat (terpenting tentu saja kapur barus) untuk diekspor ke luar negeri (Kompas, 01/04-2005).

Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Bahkan, ada memperkirakan lebih jauh dari itu sekitar 5.000 tahun SM. Perkiraan akhir itu, didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir’aun Mesir Kuno salah satu pengawetnya menggunakan kamfer atau kapur Barus.

Getah kayu kamfer yang paling baik kualitasnya, kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan era kemerdekaan Prof. Mr. Mohamad. Yamin, SH memperkirakan perdagangan rempah-rempah di antaranya kamfer, sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6.000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Lebih ke depan dari perkiraan itu, berdasarkan arsip-arsip tua berasal dari kitab suci.

Misalnya dala Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga sebagai Lobu Tua, Barus. Peradaban lain sempat menyentuh emporium Barus,
adalah Yunani yang diperkirakan para pedagangnya mengunjungi Barus di awal-awal Masehi. Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus, mencatat perjalanannya hingga ke Barousai, sekitar tahun 70 Masehi. Pencatat sejarah Yunani itu menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab dan Tiongkok juga lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah (Waspada, 26/06-2007).

Di atas telah dikemukakan bukti-bukti tentang 3 hal penting tadi. Pertama, bahwa Barus adalah kota pertama masuknya agama Kristen di Indonesia. Kedua, bahwa Barus adalah kota pertama masuknya agama Islam di Indonesia. Dan Ketiga, bahwa barus adalah kota tertua di Indonesia.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai pada abad ke-4-5 Masehi. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri abad ke-5-7 Masehi. Di

Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya (dari Berbagai Sumber). Kota Barus ini segera membawa ingatan kita pada kapur barus (kamfer dalam bahasa Belandanya, mungkin dari kata kapur yang diucapkan kofur oleh bangsa Arab). Begitu pula kemenyan (beruoe dalam bahasa Belanda) mungkin dari kata Arab (lu) ban-jawi atau kemenyan Sumatera. Kapur barus dan kemenyan tersebut sudah lama sekali diekspor dari Barus di samping hasil-hasil lainnya seperti emas, gading dan cula badak. Tetapi, kapur barus yang paling penting, sebab komoditi inilah yang membuat kota Barus begitu terkenal di dunia waktu itu. Kapur barus asal kota Barus inilah yang paling banyak dicari karena kualitasnya yang terbaik, paling laku dan harganya kurang lebih 8 kali lebi mahal daripada kapur-kapur barus asal tempat lain. (Marco Polo pernah menyebut, harga kapur barus seperti emas dengan berat yang sama!).

Dapat dibayangkan bagaimana majunya sebuah daerah yang memegang monopoli suatu komoditas (kapur barus dan kemenyan) yang sangat dicari “dunia maju” tempo dulu baik di Asia maupun Afrika bagian utara dan mungkin di Yunani. Ada tiga jenis kapur barus pada saat itu, yaitu: Kapur barus dari Kalimantan dan Sumatera (Dryobalanops aromatica), Kapur barus dari China dan Jepang (Cinnamomum Camphora) yang banyak beredar di pasaran dan yang ketiga adalah Blumea balsamifera, yang diproduksi di China dengan nama kapur barus Ngai. Harga dari kapur barus asal Sumatera ini kira-kira 138 kali lebih mahal dari kapur barus China dan Jepang. (Hobson-Jobson, Glossary of Anglo-Indian Words and Phares)(dari Berbagai Sumber).

Hingga abad ke-16, Barus merupakan pelabuhan penting dalam perdagangan internasional dan komoditas dari Barus adalah kapur barus. Tempat yang menghasilkannya memang terbatas, yaitu di kawasan dekat sebuah anak sungai yang bernama Sungai Singkel. Hasil kapur barus dibawa ke Singkel (kini: Singkil) melalui Sungai Singkel, kemudian diangkut melalui jalan darat, dan akhirnya sampai di Barus. Walau untuk ke pelabuhan Barus dari arah laut agak sulit jika dibandingkan dengan keadaan di pelabuhan Singkel atau Sibolga, tetapi Barus tetap menjadi pelabuhan terpenting pada abad ke-16, sebagaimana dilaporkan oleh Tomé Pires. Selain kapur barus ini masih ada lagi komoditas lain, yaitu kemenyan. Kemenyan ini tumbuh di hutan-hutan Bukit Barisan di daerah Tapanuli dan Dairi. Sama seperti kapur barus tadi, bahwa kawasan yang menjadi penghasil kapur barus termasuk juga Dairi (dari Berbagai Sumber).

Sesungguhnya Dairi termasuk daerah penghasil kapur barus dan kemenyan yang diekspor melalui Barus di sepanjang sejarah Barus seperti telah dikemukakan tadi. Barus hanyalah merupakan pelabuhan yang menjadi tempat perdagangan kapur barus dan kemenyan, tapi Dairi termasuk daerah yang menghasilkan kedua komoditas tersebut. Di sinilah sebenarnya peranan Dairi di dalam sejarah Barus, sehingga sejarah Dairi merupakan bagian dari sejarah Barus yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun. Sejarah Dairi tidak dapat dipisahkan dari sejarah Barus yang telah dikemukakan tadi. Dalam konteks inilah kita dapat melihat sejarah Dairi yang sudah demikian panjang hingga ribuan tahun.

sumber : http://vanrieta.blog...a-di-nusantara/

SEJARAH PERANG BUBAT

ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA

Created by Ejang Hadian Ridwan

Kalau asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadadaan bangsa Indonesia masa kimi.

Banyak terdapat informasi penting sebenarnya dari Kitab Kidung Sunda kalau kita analisia, kitab ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Negarakertagama, yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu.

Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini diangkat juga oleh kitab Pararaton, inilah kaitannya dan kenapa dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan yaitu dalam peristiwa perang Bubat. Teramat aneh kalau masyarakat menerima sebutan raja Majapahit Sri Rajasanagara dengan Hayam Wuruk, Hayam adalah kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti Ayam, sedang Wuruk sama kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti jago lebih kearah jagoan kelahi. Inilah hebatnya yang mempromosikan kitab Pararaton sehingga nama Hayam Wuruk seolah-olah benar nama sebutan atau panggilan dan tidak tanggung-tanggung nama seorang raja besar kerajaan Majapahit. Bahkan pemerintah pun mengakui sebutan itu.

Informasi lainnya seperti hal-hal yang mustahil, tidak masuk logika dan berbau mistis, seperti petikan ini:

"Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)”

Kitab Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan . Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bawa perang Bubat ini hanyalah rekayasa mengikuti cerita sebelumnya, karena kitab Kidung Sunda ini diterbitan setelah kitab pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat diterbitkan terlebih dahulu yaitu kitab Pararaton.

Baiklah dalam hal initidak diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari kitab Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda mengenai kejadian perng Bubat, mari perhatikan petikan dari kitab Kidung Sunda:

Petikan sebagian kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :

“ Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan kitab Kidung Sunda diatas salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh, yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil, jumlah total armada itu sekitar 2.000 buah perahu terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhana, kalau dimisalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini jumlah yang terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan. Bayangkan lagi kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai sekitar 40.000 orang, dan itu juga bukan jumlah sedikit, jumlah itu cukup untuk sebuah rencana menggempur atau menyerang suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.

Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan memakai perahu-perahu, pasti bukanlah jenis perahu kecil-kecil yang digunakan. Perahu-perahu ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak perahu lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu, kalau dihitung lagi dan dijumlahkan dari rata-rata 1 buah perahu memuat awak 30 orang, maka total jumlah orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.

Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan perahu, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang masa perdamainya ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan perahu dan tehnologi akan sangat dimungkinkan, bisa jadi hasil membeli dari negara lain seperti yang diungkapkan bahwa perahu-perahu besar yang digunakan mirip dengan perahu-perahu tentara Mongol waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang, terlebih punya hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan Sriwijaya yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, ditambah lagi pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal atau perahu sejumlah itu.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada, maka secara logika akal sehat sebenarnya itu tidak mungkin, kalau alasanya seperti itu, artinya dari awal dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk (atau Sri Rajasanegara), kisah ini paradoks tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah tertentu atau kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki tapi itu tidak bisa disebut kebenaran umum.

Dalam kitab Kidung Sunda itu pula dibahas tentang Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan) dikeraton kerajaan Majapahit yang merpakan paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa dalam kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, bahwa merekalah (para senior) yang melakukannya. Ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Disini realistik juga, kelihatan jelas sisi fantasi si pengarang, dalam kenyataan perang sesungguhnya siapapun bisa saling membunuh tidak hanya pembesar dengan pembesar, prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja, atau bisa jadi mereka tidak terbunuh langsung tapi karena terkena panah atau tombak jarak jauh.

Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dikisahkan bunuh diri. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya, tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan dengan rasa duka mendalam.

Dalam kitab Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda Galuh, yang diceritakan dan diterangkan membawa maksud dari raja Hayam Wuruk untuk melamar puteri kerajaan. Analisa yang mungkin untuk kejadian atau saat peristiwa datangnya utusan dari Majapahit, adalah bahwa utusan kerajaan Majapahit itu sebenarnya utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibawah kerajaan Majapahit, pola utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menaklukan kerajaan yang lainnya, semacam peringatan tidak menyerang tiba-tiba tanpa alasan. Pada akhirnya kalau diterima berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, kalau sebaliknya kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.

Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda Galuh, pertanyaannya adalah mengapa pramesuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini mudah dijawab, karena asumsinya perjalanan panjang, sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama. Pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya yang lain, bisa dibuat senyaman mungkin.

Keikutsertaan mereka dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa, seperti halnya pasukan Mongol yang melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain, mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan dalam persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa jadi untuk motifator bagi pasukan dan sang raja, menambah semangat tempur prajuritnya.

Jumlah sekitar 2000 buah kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, ingin menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka. Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda Galuh itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan dan pasti ada keyakinan dari mereka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar wilayah ke negara atau kerajaan lainya.

Sumber sejarah lain yang menjadi pendukung kisah terjadinya perang Bubat yaitu kitab Pararaton (kitab para raja), yang salah satu petikan tentang peristiwa diantaranya :

"Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya."

Petikan diatas memberikan informasi yaitu adanya pemberitahuan dari Raja Sunda Galuh kepada para bangsawannya, tentang pilihan penyerahan puteri raja sebagai persembahan bagi Raja Majapahit. Para bangsawan menolak pilihan itu tadi, ini artinya teori rencana penyerahan atau iring-iringan untuk mengantar sang puteri yang akan dinikahkan dengan raja Majapahit Hayam Wuruk itu tidak pernah terjadi, yang ada adalah raja Sunda Galuh beserta para pembesar kerajaanya sepakat untuk menyatakan perang terhadap Majapahit. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa peperangan ini sudah direncanakan sebelumnya, sedang dipilih daerah Bubat adalah karena lokasi dan pilihan strategi mereka yang sudah mereka tetapkan untuk menggempur atau menyerang kerajaan Majapahit.

Petikan dari kitab Pararaton :

" Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak.
Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.
Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.
Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.
Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.
Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279."

Petikan diatas seperti gayung bersambut, seirama atau sesuai dengan informasi yang diberikan kitab Kidung Sunda mengenai jumlah pasukan tentara Kerajaan Sunda Galuh yang ikut berperang, yaitu dengan skala jumlah pasukan tentara yang luar biasa besar.

Tambahan informasi yang menguatkan dari petikan diatas tentang adanya pernyataan bunyi bende dan keriuhan sorak seperti gemuruh, serta dinyatakan pula bahwa pasukan tentara Sunda Galuh yang gugur digambarkan dengan situasi bahwa sebaran aliran darah akibat banyaknya prajurit yang gugur diibaratkan seperti lautan, bangkai-bangkai manusia atau tentara seperti gunung, dan kehancuran total tanpa bersisa.

Seandainya jumlah mayat sampai menggunung itu bukanlah jumlah sedikit dan kematian seperti itu dalam perang jaman seperti itu mungkin sudah biasa dan sering terjadi, soalnya ketika pasukan Jenghis Khan menyerang kesultanan Kwarizmi, terjadi pembantaian luar bisa yang mencapai angka jutaan jiwa manusia. Konon katanya penggambaran situasinya waktu itu, kepala yang dipenggal saja pada waktu itu kalau digambarkankan membentuk bukit-bukit piramida besar, belum badan yang bergelimpangan dan berserakan dimana-mana. Sungguh pemandangan yang mengerikan, tetapi ini fakta sejarah dan kejadian ini pula yang bisa terjadi saat itu.

Pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh dapat dikalahkan dalam perang itu, terbantai habis tak bersisa. Hal ini dikarenakan sudah ratusan tahun lamanya kerajaan Sunda Galuh tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, setelah masa-mas kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), walau pun setatusnya kerajaan besar yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa bahkan nusantara. Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain dan itu artinya selalu berselimut dengan pengalaman perang sampai saat itu.

Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasmunsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukanya sebagian tidak ada diposisi wilayah kerajaan. Logika jumlah keterlibatan pasukan tentara Majapahit pada saat itu sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan total pasukan kerjaan secara keseluruhan, perkiraan paling sekitar 1/2 atau 2/3 dari pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ada disana. Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda Galuh, mengapa? Hal ini dikarenakan meraka sudah terlatih, terbiasa, tertempa dan berpengalaman dalam kehidupan perang selama itu.

Sekenario perang bisa saja diumpamakan 3 tahapan yaitu :


1.Perang permulaan antar armada dilautan, pasukan armada lautan Majapahit terdesak karena kekurangan armada, tapi itu tujuannya bukan perang total lebih ke arah gangguan


2.Perang pantai, disini hanya untuk melemahkan pasukan kerajaan Sunda Galuh karena yang hanya bisa dilakukan oleh pasukan perang Majapahit hanya bisa menahan melalui serangan panah dan itu ada batas pasokan panah, tapi ini paling efektif dalam mengurangi jumlah musuh.


3.Perang darat yang terjadi dilapangan luas Bubat, disinilah perang total, dengan berbagai strategi, dan yang lebih dominan dalam perang seperti ini adalah pengalaman dan strategi.

Gajah Mada dan Hayam Wuruk punya prototipe atau sumber inspirasi metode pembentukan pasukan tentara perang, yaitu dari bangsa Mongol dengan panglima perang kaligus kaisar Imparium besar daratan Mongol yaitu Jenghis Khan, Sang Penakluk dengan priode kekaisarnya juga berkembang pada masa itu juga, walau pada masa mereka kaisar Mongol di pegang oleh penerusnya yaitu Kubelai Khan, ini juga merupakan model bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk sebuah cita-cita pemersatuan suku bangsa-bangsa menuju bangsa yang besar.

Gagasan utama atau ide pemersatuan ini dipelopori pertama kali oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Arok – versi nama Kitab Pararaton), pendiri Wangsa Rajasa, yang berawal sebagai penguasa kadipaten Tumapel, bagian dari kerajaan Kediri, selanjutnya mengambil alih kekuasaan kerajaan Kediri dan membentuk kerajaan baru yang terkenal dengan nama kerajaan Tumapel (Singhasari versi kitab Pararaton). Kematian raja Tumapel Sri Rajasa sama dengan kematian Jenghis Khan tahun 1227 Masehi. Keberadaan kerajaan Tumapel sudah ada dalam catatan dari Dinasti Yuan dari Cina dengan sebutanatau pelafalan “Tu-ma-pen”. Artinya memang hubungan perdagangan sudah dilakukan sebelumnya antara kerajaan nusantara dengan wilayah Cina, dan dari hal seprti inilah peta perpolitikan dunia tersampaikan ke wilayah nusantara.

Raja Majapahit masih keturunan langsung Wangsa Rasaja, yang pendirinya tiada lain raja Tumapel atau lebih terkenal sebutan Singhasari pertama, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Ide atau gagasan perluasan wilayah Sri Rajasa kemudian ditindaklanjuti oleh turunan ke-4 yaitu raja Kertanegara, sehingga kekuasaan Tumapel yang lebih terkenal dengan sebutan Singhasari pada waktu itu sudah meluas dengan adanya misi yang terkenal dengan sebutan “Ekspedisi Pamalayu”.

Ide dan gagasan pemersatuan dan perluasan wilayah ini sebenarnya pada akhirnya bertujuan untuk menghadang gempuran kekuatan besar pasukan tentara Mongol itu sendiri, yang kemungkinan akan mengarah ke wilayah Asia bagian tenggara, tanpa kecuali wilayah-wilayah nusantara. Ide atau gagasan pemersatuan ini juga dibuat untuk sistem pertahanan semesta dan pembentukan aliansi atau tentara gabungan pasukan tentara seluruh kerajaan di nusantara menghadapi terjangan badai besar dari pasukan tentara Mongol.

Pasukan tentara Mongol bahkan sanggup memporakporandakan dan membantai sejumlah pasukan yang bisa jadi 5 kali lipat jumlah pasukanya, tentunya ini hasil buah strategi dan pengalaman perang mereka didaratan Mongol, perang antar klan (suku) menyebabkan meraka teruji untuk model perang seperti apapun.

Begitu juga dalam mengadapi pasukan besar tentara Sunda Galuh walaupun tentara yang dibawa sebegitu banyak, laksana air bah, mungkin tentara Majapahit hanya terkumpul 30.000 – 45.000 orang, tapi posisi meraka yang menguasai medan tempur dan ahli-ahli perang semua, akan dengan mudah membikin porak-porandakan formasi tentara Sunda Galuh.

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan penuh cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi mengandalkan jumlah besarnya, walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu, kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit kalau mereka dalam posisi menang, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan dibantai habis.

Tapi mungkin yang lebih mengena adalah sifat kepahlawanan dari pasukan tentara Sunda Galuh sendiri, yang tidak mengenal kata menyerah, mereka melakukan perang seperti model perang Puputan yaitu perang sampai habis-habisan, dengan semangat perang yaitu sampa darah penghabisan alias gugur sebagai pahlawan perang.

Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur. Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat Sunda Galuh pada waktu itu. Kalah memang tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau malu.

Kalau metoda perang sampai paripurna oleh pasukan Majapahit, yang kemungkin besar kerajaan-kerajaan di Nusantara diperlakukan sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai bersih, diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna. Itu juga, sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang, bagi meraka yang menyatakan tidak tunduk dan mengakui kerajaan kerajaan Majapahit, sehingga itu pula dalam waktu singkat dan cepat yang menyebabkan kerajaan-kerajaan Nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

Apa yang dilakukan raja Sunda Galuh bersama pasukan tentaranya adalah hal wajar, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerjaannya dengan melakukan penyerangan duluan, teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman perang pasukan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang raja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan Sunda Galuh menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani mengadapi resiko kematian sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

Gajah Mada terkenal mempunyai pasukan elit intelejen yang bernama Bayangkara, yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah meraka terima sebelumnya dan sudah dipersiapkan antisifasinya walaupun dengan sumber daya seadanya.

Mahapatih Gajah mada, raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat hanya tinggal beberapa ribu orang saja pastinya.

Setelah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan kerajaan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang dimasa yang akan datang dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan kondisi akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

Kitab Kidung Sunda menyatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis), tetapi dalam Negarakertagama tentang Gajah Mada yaitu karena usianya sudah uzhhur sudah waktunya digantikan dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup, apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh nusantara dapat ditaklukan, perjalanan penaklukan yang sempurna.

Gajah Mada berusia 71 tahun ketika selesai menjabat Mahapatih di kerajaan Majapahit dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 25 tahun berarti kisaran usianya sekitar 76 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur segitu sudah menjadi manusia lanjut usia (red - aki-aki rempong), wajar untuk pensiun dan menikmati hidup apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari Kitab Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Hayam Wuruk menjadi raja dari tahun 1334 sampai dengan tahun 1389 M dihitung tahun yang pada awal dinobatkannya disebut sebagai raja muda, katakanlah usia pada waktu itu 10 tahunan, artinya umur Hayam Wuruk pada saat perang Bubat terjadi adalah 33 tahun dan umur segitu Hayam Wuruk sudah menikah dan punya anak perempuan umur 14 tahun yang sudah dijodohkan dengan anak sepupunya yang nantinya akan menjadi raja Majapahit setelah raja Hayam Wuruk. Teori persembahan Dyah Pitaloka kayanya mubazir, karena Sang Prabu Raja Galuh pasti tidak mau anaknya jadi selir yang tidak menurunkan putera mahkota.

Cerita perang Bubat ini berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum,. Perangan antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari kerajaan Sunda Galuh untuk raja Majapahit Hayam Wuruk. Ini hanyalah analisa dari keberadaan kitab Kidung Sunda yang dianggap referensi untuk kejadian atau peristiwa perang Bubat.

Kitab Kidung Sunda itu sendiri seperti halnya kitab Pararaton dan kitab Sundayana harus dipastikan ke absyahannya, kebenaran kandungan ceritanya. Soalnya ini sejarah, jangan hanya terjebak dan terpaku kepada cerita anak manusia, sekelompok orang atau pihak tertentu yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia, yang kemudian cerita itu malah dianggap sebagai kebenaran umum. Artinya kita akan salah kaprah dan riset sejarah dari pemerintah Indonesia sendirilah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah, dengan membentuk Dewan Sejarah Nasional.

Apa yang penulis ceritakan hanya berdasar asumi yaitu jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pembaca yang budiman untuk menganalisa sendiri kitab Kidung Sunda. Logika dan kondisi-kondisi realistiklah yang menjadi dasar bagi si penulis.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka dan bahkan nama Raja Sunda Galuh pada waktu itu juga tidak disebut, logikanya orang yang mengarang kitab (buku) Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnyaan yang mana puteri Citraresmi atau Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di kitab Pararaton, kitab yang dianggap benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya kitab Pararaton ini banyak keanehan dan kebenarnya yang sama-sama harus dibuktikan.

Akhir kata, Sri Rajasa (Ken Arok - versi Kitab Pararaton), Kertanegara, Gajah Mada dan Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, dan diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan Nusantara pada pencapaian lebih jauh. Masalah perang bubat bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan karena jastifikasi sejarah belum ada, tetapi kalau itupun benar banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Semoga semua pihak lapang dada menerima sesuatu yang terjadi dikehidupan masa lampau umat manusia, karena itulah jalan dan taqdir IILAHI.

Wassalam

penulis
silakan kunjungi blog sy http://menguaktabirs...h.blogspot.com/

Referensi :


1. http://www.kalangsun...sunda-tanggapan


2.Wikipedia Indonesia, online
2. Genghis Khan, Sang Penakluk, Sam Djang
3. Genghis Khan, Badai Tengah Padang, Sam Djang
4. Gajah Mada Seri I,II,III,IV, Langit Kresna Heriadi

Saturday, November 07, 2009

KEJADIAN UNIK DI PERANG SALIB

Apakah anda tahu, kalau raja Richard dari Inggris tidak bisa berbahasa Inggris? Ataukah anda tahu kalau raja Richard dan sultan Saladin sering makan malam bersama dijeda pertempurannya? Seperti layaknya perang-perang yang lain, maka perang salib banyak sekali menyimpan cerita atau fakta unik dibaliknya.

1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan konyolnya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.

2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai " The Absent King

3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi "

4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.

5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran

6. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, "Aku tidak ingin orang ini mengacaukan "permainan" kecil kita". Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.

7. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya

8. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?

9. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.

10. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu

11. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.

12. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).

13. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir

14. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya 'berbahaya'.

15. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.

16. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack

17. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.

18. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

19. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus

20. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 - 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full - time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.

21. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.

22. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin

23. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko

24. Kalau selama ini kita mendengar bahwa Saladin itu komandan yg santun, maka salah satu panglima mamluk yaitu Baybar adalah komandan yang garang. Tidak kalah garangnya dalam soal bunuh-membunuh seperti crusaders. Kalau crusaders dibawah pimpinan Richard pernah menghukum mati seluruh tawanan muslim di Aacre, pasukan Baybar juga membunuh semua orang kristen di Acre, termasuk pendeta dan perempuan. bahkan dia berkirim surat ke komandan crusaders untuk menceritakan detil pembantaian di dalam suratnya. Baybar bahkan sampai membuat lingkungan acre jadi gurun agar di masa depan sulit untuk jadi pangkalan crusaders lagi.

25. Saat pengepungan kota Acre, Baybars menggunakan siege weaponnya selain sebagai senjata penghancur berat jarak jauh, juga sebagai senjata psikologi dan biologi. Senjata katapel-nya tidak hanya melontarkan batu ke arah kota, tapi juga mayat pasukan musuh, tawanan anak-anak yang masih hidup serta bangkai binatang spt kuda, unta dll. Di abad pertengahan hal itu kerap disebut sbg 'humor pasukan artileri'. Namun Baybars melakukannya lebih intensif dan mengerikan.

26. Akibat dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Maka.Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

Ada di antara teman-teman yang mau menambahkan????

sumber: http://iqbalsandira.blogspot.com/200...ang-salib.html

Bumi Langit Karaeng Pattingalloang

Hari itu, I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang (KP), tengah berdiri menyambut angin semilir dan gemerisik ombak Makassar. Saya bayangkan, di sisi Perdana Menteri Kesultanan Gowa itu, di bawah matahari Februari 1651, berdiri menantunya: I Mallombassi yang kelak menjadi Sultan Hasanuddin. Putera KP, Karaeng Karungrung, tampak mencermati buku di tangannya. Sejumlah tubarani (satria) dari istana Tallo dan benteng Sombaopu terlihat juga di sana. Sebagian di antaranya berbaur dengan wajah-wajah Makassar, Bugis, Malaka, Jawa, Campa, Johor, Minang, Patani, India, Cina, Portugis, Spanyol, Denmark, Perancis dan Inggeris.

Di pertengahan abad 17 itu, Makassar adalah bandar paling ramai dan paling kosmopolit di Negeri-negeri Bawah Angin belahan Timur. Dikitari sejumlah benteng yang dibangun dan diperluas sejak seratusan tahun yang silam, di bawah Raja Gowa IX Karaeng Tumapa’risi’ Kallona, pusat kerajaan Gowa – Sombaopu – menjadi kota antarbangsa dengan keragaman penduduk tertinggi dalam 600 tahun sejarahnya.

Ketika Malaka jatuh di bawah hantamam meriam Portugis pada 1511, sejumlah satria Melayu yang menampik kekalahan tersebut, pindah beramai-ramai ke Siang (Pangkajene Kepulauan). Mereka kemudian hijrah ke Sombaopu setelah mendapat jaminan perlindungan tertulis dari Raja Gowa X Karaeng Tunipalangga. Jaminan yang memberi kesempatan kepada segala jenis manusia yang melintas di Nusantara hak menegakkan semacam hukum ektrateritorial itu, adalah jaminan pra-Eropa pertama di Nusantara.

Suaka niaga itu menjadi sorga pelarian, kali ini oleh Portugis, setelah Malaka jatuh ke tangan Belanda pada 1641. Sejak itu, Makassar menjadi tempat persinggahan utama Portugis di Nusantara. Sekitar 3000 orang Portugis menetap di tengah kota, lengkap dengan 4 buah tempat ibadat Kristen. Sebelumnya, pada 1613, Inggeris sudah membangun sebuah pabrik, disusul Denmark lima tahun kemudian. Para pedagang Cina dan Spanyol, dengan tetap menyimpan kenangan pada tanah leluhur, tampak membangun jaringan bisnis dan berdiam di kota itu masing-masing sejak 1619 dan 1615.

Satu-satunya bangsa yang jarang berkeliaran di Sombaopu di sekitar tahun 1651 itu justeru Belanda, kendati jauh sebelumnya mereka juga diperkenankan membangun pabrik dan kantor dagang. Itu adalah buah dari perang dingin yang diawali sejak fajar abad 17 dari dua musuh bebuyutan di samudera timur Nusantara. Dengan segala cara, Kompeni ingin menguasai seluruh jalur laut rempah-rempah dan menegakkan monopoli yang diamanatkan Parlemen (Staten Generaal) Republik Persatuan Nederland. Makassar tegak dengan kalimat keramat mare liberum yang pada 1615 ditegaskan Sultan Alauddin Raja Gowa XIV: Tuhan menciptakan bumi dan lautan. Tanah dibagi-bagikan di antara manusia dan samudera diperuntukkan bagi semuanya. Tak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang, bagi satu kaum.

Sampai tahun 1651 itu, perang terbuka belum meledak di antara dua kekuatan maritim ini. Konflik memang sudah berlangsung cukup lama dan di beberapa tempat darah bertumpahan. Di awal April 1615, sejumlah pembesar Gowa diculik kapal Enkhuisen. Penculikan itu tadinya diawali dengan undangan bersahabat, jamuan makan, minum-minum, dilanjutkan dengan acara bakutikam dan pertempuran berdarah tak seimbang. Beberapa satria Gowa terluka dan tewas. Penawanan yang diatur oleh kapten Dirck de Vries dan kepala kantor VOC di Sombaopu Abraham Sterck, memantik murka Makassar. Pada Desember 1616, kapal Belanda pertama yang ke Australia, de Eendracht, tersesat di Selat Makassar. Dituduh masuk wilayah Gowa tanpa ijin, dan juga karena dendam atas penawanan licik hampir dua tahun sebelumnya, Makassar menyita de Eendracht dengan segenap isinya: bersama ke 16 nyawa awaknya yang tersisa.

Kedua kejadian di atas, ditambah dengan pemblokiran Sombaopu yang tak berarti banyak bagi phinisi Makassar oleh armada Belanda di bawah Gijsbert van Lodestein (1634), bantuan pelaut-pelaut Makassar kepada rakyat Maluku melawan keganasan VOC dalam Pelayaran Hongi, beserta sekian kejadian panas lainnya, umumnya memang bisa diselesaikan dengan perjanjian. Sebuah perjanjian diplomatik utama ditandatangani 26 Juni 1637 oleh Sultan Alauddin dan Gubernur Jenderal Antonio van Diemen. Di dalamnya antara lain disebutkan bahwa Gowa tak akan berdagang di tempat-tempat yang menjadi musuh Kompeni dan Belanda dilarang membangun kantor dagang di Makassar.

Sampai 1651, tak sepotong bangunan pun diperkenankan berdiri di Sombaopu sebagai kantor VOC, justeru ketika seluruh bangsa lain di dunia, diperkenankan berkembang dan dilindungi. Padahal jaringan dagang adidaya dunia abad 17 itu justeru sudah mulai menguasai Nusantara setelah melibas Tanjung Harapan, Coromandel, Srilangka dan Malaka, dan terus merambah ke Utara sampai ke Taiwan dan Jepang. Meski demikian, perdagangan Makassar dengan Belanda dalam beberapa hal masih berjalan. Seperti Amsterdam, Antwerpen, Venesia atau Genoa, kota Sombaopu saat itu juga hidup dan bergerak dengan semangat kapitalisme awal yang sedang marak di Eropa Barat dan masih menyisakan denyut di Mediterania. Bahkan Sultan pun berniaga. KP juga pedagang besar yang menjalin bisnis dengan Maluku, Portugis, dan Belanda di Batavia. Transaksinya bertebaran sampai ke Manila, Thailand, Golconde (India) dan semua tempat yang bisa dicapai armadanya.

Pada 22 Juli 1644, KP menyerahkan kepada kapten kapal Belanda Oudewater kayu cendana senilai 660 real dan satu daftar pesanan barang yang diurai rinci oleh Denys Lombard dalam karya besarnya Nusa Jawa: Silang Budaya. Bahkan Belanda pun menyebut pesanan KP sebagai rariten, barang langka. Selain peta-peta navigasi dunia yang selama berabad-abad digolongkan sebagai harta dan rahasia negara, yang terpenting di antara rariten itu adalah bola dunia dengan keliling 4 meter, ditambah atlas bumi dan teropong bintang yang seba terbaik di dunia.

Setelah menanti 7 tahun, datanglah pesanan yang ditunggu-tunggu. KP jelas sangat mengidamkan barang itu. Ia memerlukan datang sendiri menjemputnya. Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah pesanannya sudah ada yang tiba. Tapi kali ini, yang datang adalah instrumen yang bahkan para cendekiawan Eropa sebagian besar hanya bisa memimpikannya.

Persis di salah satu hari di pertengahan Pebruari itu, sebuah kapal Belanda membuang sauh di bandar Sombaopu. Kabar akan merapatnya kapal dagang itu, seperti biasa, sudah menyebar ke seluruh kota. Banyak penduduk, yang seperti KP, juga datang meramaikan bandar. Tapi berbeda dengan Sang Pabbicara Butta, sebagian penduduk mungkin hanya ingin melihat benda aneh berukuran besar. Di antara penduduk itu mungkin ada yang ingat pada sebuah kejadian 9 tahun yang silam, tepatnya 16 Mei 1642. Pedagang Portugis yang sudah mereka kenal lama, Wehara (Francisco Vieira de Figueiredo) membawa binatang aneh berbelalai yang besarnya hampir separuh rumah: gajah.

Bisa jadi karena melihat binatang mitologis anak benua India itu kesepian, ditambah minat besar mengetahui hewan-hewan ajaib dari belahan dunia lain, sekaligus untuk melengkapi koleksi satwa yang ada, di antaranya adalah antelop Afrika dan kuda-kuda Asia, KP mengirim surat ke Gubernur Jenderal di Batavia. Di surat yang diterima pada 4 Juni 1648 itu tercantum permintaan binatang tunggangan para sultan dan nabi dari gurun Arabia: sepasang unta jantan dan betina.

Apapun niat hati mereka yang berkumpul di bandar Sombaopu hari itu, orang-orang dengan berbagai raut muka, warna kulit, bahasa dan busana itu, semuanya, terutama sang perdana menteri, saya bayangkan sedang tegang. Mereka menanti didaratkannya bola dunia terbesar yang mungkin dilihat oleh Asia Tenggara di pertengahan abad 17 itu. Bola dunia dengan garis tengah 1,3 meter itu memang sangat mengesankan. Joan Blaeu sendiri yang langsung membuatnya, dan itulah bola dunia terbesar yang dihasilkannya. Kartograf mashyur ini, antara lain pernah membuat instrumen pengamat bintang untuk astronom Denmark Tyco Brahe. Instrumen tersebut misalnya adalah revolving azimuth quadrant. Menurut Brahe, alat setinggi 3 meter ini skalanya akurat sampai seperempat menit busur. Antara lain dengan instrumen ini, meski masih memegang pandangan klasik geosentrisme, Brahe menegakkan reputasinya sebagai astronom terbesar dunia di masanya.

Joan adalah generasi kedua keluarga pembuat peta dan bola dunia yang paling ternama di Amsterdam – di masa itu peta-peta keluaran Amsterdam diakui sebagai yang terbaik sedunia. Ayahnya, Willem Janszoon Blaeu, jauh sebelumnya sudah tenar dengan karya peta Belanda (1604), peta dunia (1605-06) dan Het Licht der Zeevaerdt (Sang Cahaya Navigasi), sebuah atlas bahari yang menyebar ke seluruh dunia dengan sejumlah edisi, bahasa dan judul yang berbeda. Sekitar 1635, hidrografer VOC ini menerbitkan volume pertama atlas jagad yang diberi judul Atlas Novus. Dengan antara lain memanfaatkan dan meyempurnakan sejumlah peta karya kartograf legendaris Gerard Mercator, inilah atlas terbaik di jamannya. Ia mencakup peta-peta paling mutakhir dari seluruh jengkal bumi yang diketahui. Tampaknya inilah atlas yang dimaksud dalam daftar pesanan barang langka KP.

Ketika pesanan bola dunia dan yang lain dari KP mencapai Amsterdam, bagai api di padang rumput kegemparan menjalari kalangan terpelajar di Belanda. Dengan Aula Kota-nya yang penuh pualam dan melampaui arsitektur Gothik, Belanda yang relatif toleran terhadap pendapat-pendapat non-othodoks menjadi daerah suaka para intelektual yang mengungsi dari penyensoran di tempat lain di Eropa. Belanda di pertengahan abad 17 adalah rumah bagi filsuf besar Yahudi Baruch Spinoza, yang dikagumi Einstein; bagi Rene Descartes, tonggak penting sejarah filsafat dan matematika; bagi John Locke, pemikir politik yang secara filosofis kelak mempengaruhi revolusi Amerika lewat Paine, Hamilton, Adams, Franklin dan Jefferson. Tak pernah sebelumnya dan setelahnya, Belanda begitu dimegahkan oleh sekumpulan seniman, ilmuwan, filsuf dan matematikawan. Zaman itu adalah era pelukis ternama Rembrandt, Vermeer dan Frans Halls; Antonie Van Leeuwenhoek, penemu mikroskop; Grotious, pembangun Hukum Intenasional. Salah satu anggota komunitas ini adalah dramawan dan penyair terbesar Belanda, Joost van den Vondel, yang oleh daftar pesanan rariten KP, tergerak mempersembahkan sajak untuk penguasa dari Timur itu.

Lahir di Colegne, Jerman, Vondel mempengaruhi sastra Eropa antara lain dengan karya Gysbrecht van Aemstil (1637), dan Lucifer (1654) yang konon meninggalkan jejak pada epik terbesar Inggeris, Paradise Lost John Milton (1667). Selama kebangkitan Belanda melawan Spanyol, Vondel menampilkan sejumlah sajak yang merayakan kejayaan Belanda Bersatu. Namun, drama Palamedes (1625) yang mengangkat tema kemartiran religio-politik, membangkitkan kejengkelan kaum Calvinis. Ia lalu bergabung dengan kaum pembangkang menentang Calvinisme dogmatik dan kelak pada 1641 berpindah iman ke Katolik Roma.

Eulogiumnya kepada KP mungkin berasal dari pengalaman gelapnya dengan Eropa. Inilah benua di mana para raja dan bangsawan mengabaikan ilmu karena tak punya kontribusi langsung pada ekspansi wilayah, para pendeta dan uskup menentang ilmu karena menganggap kebenaran mutlak sudah ditemukan. Sementara itu, para ilmuwan mengembara atau dikucilkan, dan hanya bisa berkarya dengan baik di bawah segelintir penguasa yang berpikiran terbuka. Pemikir bebas yang sial, seperti Michael Servetus dan Giordano Bruno, hanya mengakhiri hidup dan petualangan intelektualnya di atas kobaran api unggun. Vondel mungkin melihat kombinasi menakjubkan dalam diri KP: seorang penguasa agung di sebuah kesultanan besar yang sekaligus seorang pemburu ilmu yang sangat bersemangat. Larik-larik dan persahabatan intelektual yang melampaui agama dan benua berikut tercantum di Volledige Dichtwerken.

Dien Aardkloot zend ‘t Oostindische huis
Den grooten Pantagoule t’huis,
Wiens aldoorsnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.
Men wensche dat zijn scepter wass’,
Bereyke d’eene en d’andere as,
En eer het slyten van de tyd
Dit koper dan ons vriendschap slyt.

“Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur
Mengirimkannya ke istana Pattingalloang Agung
Yang otaknya menyelidik ke mana-mana
Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil.
Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang
Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain
Agar keusuran waktu hanya melapukkan
Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”

Dengan agak susah payah, bola dunia itu mendarat dan diarak menuju istana. Sepanjang jalan, anak-anak dengan pakaian longgar bersorak di bawah matahari Celebes yang benderang, yang sedikit dijinakkan oleh stratocumulus sisa-sisa Musim Barat. Bola dunia besar itu akhirnya masuk ke ruang belajar KP yang luas dihiasi lonceng raksasa.

Seperti sebagian besar buku di ruang itu, lonceng itu dipesan langsung dari Eropa. Mungkin KP ingin melihat bagaimana bunyi genta dari menara yang berbeda bisa mengoyak Eropa dalam perang agama yang berdarah. Perang serupa pernah juga ia alami. Yang pasti ia tertarik pada akustik dan hukum-hukum penjalaran gelombang suara. Di kamar itu juga ditemukan sejumlah prisma segitiga yang memungkinkan dekomposisi cahaya, yang jelas membiaskan minat KP pada sifat-sifat geometris cahaya dan citra-citra visual. Sejauh manakah orang yang siang malam menenteng buku fisika dan matematika ini bergulat dengan ide penjalaran gelombang cahaya? Di sekitar tahun itu juga, di belahan bumi yang lain, Fransisco Maria Grimaldi, seorang fisikawan Italia, oleh sejarah sains Eropa dicatat menemukan hukum difraksi optis dan menegaskan ide spekulatif gelombang cahaya.

Di ruang belajar yang luas itu, Sang Perdana Menteri menerima sejumlah tamu asing, bercakap dan berdebat dalam bahasa sang tamu. Pastor Alexander de Rhodes yang mencipta transkripsi huruf Latin untuk bahasa Vietnam, adalah salah satu di antaranya. Bersama misionaris katolik Jesuit itu, KP mendiskusikan banyak hal, dari gerhana bulan hingga ke karya bruder Spanyol ordo Dominikan, Luis de Granada. Sebagai misionaris saleh, bapa pastor Belanda tentu saja mencoba segala daya mengkristenkan KP. Pertemuan itu memang berlanjut beberapa kali dan berakhir dengan persahabatan dan kepergian bapa misionaris membawa catatan penuh pujian yang akan dikabarkannya ke dunia.

Dari pastor de Rhodes-lah antara lain diketahui betapa besar minat KP pada agama, sejarah dan peradaban Eropa, betapa kaya perpustakaannya yang dipenuhi buku dan radas ilmiah. Minat yang nyaris tak terbatas pada semua ilmu yang diketahui saat itu, khususnya Agama dan Ilmu Alam, menunjukkan sesuatu yang melampaui rasa ingin tahu teoritis. Dua yang terakhir itu adalah pengetahuan paling ambisius yang ditemukan manusia: keduanya mengklaim semesta raya seisinya sebagai subyeknya dan percaya bahwa ada penjelasan terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam ruang dan waktu semesta.

Yang aneh adalah bahwa dalam catatan itu tak disebut adanya buku-buku sastra di ruang KP itu. Mungkinkah karena ia memang kurang mencintai seni? Ataukah karena para pengabar kecendekiawanan KP, umumnya pedagang dan misionaris, dua jenis manusia yang dalam bentuknya yang karikatural suka memandang curiga pada imajinasi dan seni? Kita ingat Meneer Droogstoppel, karakter ciptaan Multatuli dalam Max Havelaar: pedagang sukses ini mencemooh puisi dan roman, dan menganggap teater sebagai dusta. Kita ingat rahib buta Jorge, tokoh karya Umberto Eco dalam The Name of The Rose: penunggu perpustakaan biara itu mengutuk lelucon dan imajinasi atas nama iman yang tak terbantah.

Yang pasti, seluruh buku Luis de Granada, dalam bahasa Spanyol, ada di perpustakaan itu. Saya bayangkan karya penyair Jazirah Iberia dan sastrawan Eropa lainnya, para pemimpi yang memberi isi pada kata Renaissance, juga ada di sana. Mungkinkah di antaranya terselip Dante, Luis Vaz de Camões, Rabelais, Shakespeare atau Miguel de Cervantes? Jika ia membaca Don Quijote dan Sancho Panza, apa gerangan reaksinya? Sukakah ia pada karya yang dianggap sebagai novel moderen pertama dalam sejarah sastra dunia ini? Apa jawabnya atas distingsi Cervantes antara kebenaran puitis dan kebenaran historis; atas pembedaan Don Quijote antara kehidupan satria dan kehidupan cendekiawan?

Saya bayangkan, sejak detik pertama masuknya bola dunia di perpustakaan itu hingga separuh tenggelamnya matahari di Selat Makassar, KP terus mendekam di ruang itu. Ia mengasyikkan diri memutar-mutar bola tembaga tersebut, membandingkannya dengan atlas Blaeu dan dengan pengalamannya sendiri, mencocokkan peta dengan teritori. Awalnya ia mencermati letak Sombaopu di antara dua kutub, lalu menandai segenap wilayah kesultanan Gowa dengan hegemoni yang paling berpengaruh antara Jawa dan Luzon. Kemudian ia mencari letak kota-kota yang pernah didengarnya, kota-kota yang puluhan tahun sudah hidup di benaknya.

Sambil menelusuri kota-kota tersebut, bergerak dari samudera ke samudera, dari benua ke benua, ia teringat bagaimana dulu sejumlah Belanda datang menghadap. Mereka tak habis mengerti kenyataan ini: di Jepang, di bawah dinasti Ieyasu Tokugawa, merekalah satu-satunya bangsa Eropa yang boleh ada di negeri Matahari Terbit yang justeru sedang menutup diri ke dunia; di Gowa, merekalah satu-satunya bangsa Eropa yang tak boleh punya kantor di seluruh wilayah kesultanan yang justeru membuka diri ke dunia. Dengan sopan utusan gubernur jenderal itu memohon ijin membangun kantor dagang. Untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa istimewa Eropa, Belanda-belanda itu membeberkan betapa lemahnya Spanyol yang mereka kalahkan dalam Perang 80 tahun, dan betapa kejinya Inggeris yang memenggal rajanya.

KP lalu mencermati London dan membayangkan parlemen, disokong Oliver Cromwell, akhirnya memancung Charles I. Ia terkenang pada Raja Gowa XIII Karaeng Tunipasulu’. Naik tahta pada usia 15, dengan semaunya ia memecat pembesar-pembesar Gowa, merusak kemerdekaan federasi Bate Salapanga dan membunuh orang-orang yang tak disenanginya. Gelaran lain baginda adalah I Pakere’ Tau (Sang pemotong manusia). Baginda memerintah dengan cara memalukan, seakan lupa bahwa seorang leluhurnya, Raja Gowa VIII Tujallo ri Passukki, tewas ditikam dalam amukan seorang hambanya. Sang Hamba mengeksekusi rajanya setelah baginda sial itu tuntas menitahkan hinaan memalukan yang tak tertanggungkan. Menganggap cukup sepak terjang sewenang-wenang raja, rakyat dan dewan adat bergerak. Mereka memecat dan memakzulkan si Pemotong Manusia yang cuma bisa bertahta 3 tahun, dan membuangnya keluar kerajaan.

Usai mengunjungi kota-kota besar dunia, menebak pengetahuan penduduk benua-benua yang baru ditemukan, dan memastikan letak Westphalia tempat diakhirinya Perang 80 tahun yang melibatkan hampir seluruh Eropa, untuk kesekian kali ia disergap oleh sekaligus ekstasi dan agoni pengetahuan. Titik-titik bola dunia itu mengantarnya pada sebuah revelasi yang belum pernah ia alami. Kepingan-kepingan pengetahuan yang ditimbunnya bertahun-tahun, informasi-informasi yang dulu tampak tak saling berhubungan dan menolak disatukan, kini semuanya berubah. Segala macam informasi itu, bahkan yang sudah terlupakan dan tenggelam ke bawah sadar, bangkit berputar-putar bagai angin beliung yang kemudian mengorganisasikan diri menjadi sebuah dunia, sebuah semesta baru pengetahuan.

Di matanya, permukaan bola dunia itu tak lagi beku. Sejumlah titik api muncul di sana, membara dan mengecil. Batas-batas berubah, meluas dan menyusut. Dengan permukaan yang terus berdenyut dan bergerak cepat, seakan saling menjalin saling memangsa, bola dunia itu menjadi hidup merepresentasikan apa yang kelak dikenal sebagai Sejarah.

KP merasakan tubuhnya membesar. Kepalanya melembung menyedot seluruh bola dunia itu masuk ke dalamnya, bersatu dengan dirinya, memberinya rasa nikmat yang tak terlukiskan. Ekstase pengetahuan ini berlangsung beberapa detik, untuk kemudian diganti dengan perasaan longsor yang menakutkan. Dalam sekilas, KP dan bola dunia itu kembali terpisah. Kini ia yang merasa dirinya mengecil, sangat kecil, dan tersedot masuk sebagai sebuah bintik sepele di permukaan bola dunia tersebut. Ia debu tanpa arti dari jagat yang terus berputar dan berubah.

Ia paham betapa mininya negerinya, betapa tak berartinya Celebes. Ia tahu nenek moyang Makassar telah menjelajah jauh sampai ke Campa, Pantai Marege dan Madagaskar. Tapi itu belum berarti banyak dibanding penjelajahan Portugis, Spanyol, Belanda atau Inggeris. Merekalah yang membuktikan dunia ini bulat. Merekalah yang meyusun cermat peta-peta dunia dan membikin bola dunia raksasa. Saya bayangkan KP makin melihat secara berbeda negeri-negeri lain. Di benaknya terbentang antara lain sebuah gambaran mental yang sebelumnya telah dilihat Vondel. Vondel yang nasionalis melihat Amsterdam sebagai sumbu dunia: gudang-gudang besar sepanjang dermaga kota yang ditumpuki rempah-rempah dan kain cita dari Timur, berbagai kargo ikan dan paus dari Laut Utara dan Baltik, gula dari Hindia Barat serta tembakau dari Virginia dan Maryland.

KP tahu bahwa seluruh kota besar di dunia semuanya adalah sumbu dunia, kecuali Sombaopu. Pemahaman ini memberinya rasa perih yang bertahan lebih lama dari rasa nikmat yang tadi. Penyesalan mulai tumbuh pada usianya yang berangkat senja. Ia mungkin ingin juga berlayar mengelilingi Bumi, menyedot langsung pengetahuan dunia dari sumbernya. Ia tahu dari pedagang Eropa bahwa Colombus menemu Amerika pada 1492, bahwa Magellan bertolak keliling dunia pada 1519, disusul Francis Drake pada 1577. Yang pasti, ia ingin agar Sombaopu juga jadi sumbu jagat dan tak tenggelam oleh gelombang besar yang datang bersusulan dari luar, yang demi rempah-rempah bersedia saling menghancurkan dan mengorbankan apapun.

Rasa perih, sesal dan cemas yang bercampur-aduk itu tak banyak surut oleh ingatan pada naskah keahlian membuat meriam yang ditulis dalam bahasa Spanyol konon oleh Andreas Monyona. Naskah itu sudah diringkas dalam bahasa Makassar sejak 1635 dan kini, atas perintahnya, sedang dalam perampungan penerjemahan lengkap. Di masa dialah memang, tercatat memuncaknya kegiatan penerjemahan serangkaian risalah teknologi Eropa ke bahasa Nusantara. Tak ada negeri lain di wilayah yang kini bernama Indonesia yang melakukan penerjemahan sesistematis itu. Naskah-naskah pembuatan meriam, pabrikasi bubuk mesiu dan senjata diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis dan Turki.

Tapi ia tahu, untuk tumbuh dan berkembang menjangkau dunia dibutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar meriam dan benteng. Itulah kengototan untuk menjelajah, kerakusan pada pengetahuan-pengetahuan baru, ketakpuasan pada apa yang sudah dicapai, yang semuanya harus ditumbuhkan dan disebarluaskan. Ia memang terus memerintahkan Bugis-Makassar membangun keterampilan menggandakan dan membuat peta-peta serta jalur-jalur penjelajahan maritim, sebuah keterampilan yang juga unik di Nusantara. Tapi keterampilan kartografis serta teknologi militer dan transportasi laut yang sangat unggul itu, tak cukup menggerakkan Sulawesi menjelajah sampai ke kutub; melumpuhkan Belanda sampai ke Amsterdam dan membentangkan sendiri imperium yang melintasi benua untuk menjinakkan ekspansi imperium lain.

Mungkin karena segala hal yang mereka perlukan untuk hidup nyaman menurut sangkaan mereka ada semua di negeri ini. Maluku yang jadi obsesi ribuan tahun Eropa ada di samping, sementara mereka tidak merasa perlu berlayar menyelamatkan sukma belahan dunia lain. Seperti semua tempat di seluruh kawasan yang dekat equator, Makassar saat itu adalah juga firdaus: tanah-tanah yang demikian indah yang membuat upaya membayangkan sebuah surga yang lain menjadi suatu kemustahilan kognitif. Penduduk asli tanah-tanah itu hidup dengan dengan lazuardi yang belum dilintasi sejarah dan samudera yang belum terseret sorga. Para pendatanglah yang memperkenalkan mereka dengan konsep dan detail asing itu.

Berabad-abad masyarakat dengan masa silam pendek ini, hidup dalam kekinian yang kekal, mencintai tubuh, sawah dan lautnya yang membentang, dan hanya punya pemahaman tegas tentang kehormatan (siri’) dan konsep samar dunia orang mati. Teknologi militer memang bisa dipelajari cepat, tapi butuh waktu lama dan sejarah yang keras untuk belajar merawat rasa hormat pada masa lampau seraya membangun ambisi dengan rencana-rencana agung ke masa depan.

Saya bayangkan KP merenungkan orang-orang yang bersedia menghambur memburu totalitas dan tak gentar membawa segala hal ke ujung yang ekstrim, yang tak ragu menyeret seluruh dunia dalam kancah perang ide-ide, yang menumbuhkan dalam dirinya hasrat dan kesadaran imperial untuk dibentangkan tidak cuma dalam ruang tapi juga dalam waktu. Mungkinkah ia teringat sebuah legenda Jerman yang diceritakan orang Inggeris tentang seorang doktor yang bersedia menukar jiwanya kepada Iblis demi mendapatkan kekuasaan pengetahuan yang memungkinkannya menghasilkan karya-karya yang memuaskan sukma selama 1000 tahun?

Hanya azan magrib yang menarik KP kembali ke Makassar. Usai menunaikan Isya ia membawa pelita ke menara Maccini Somabala (observasi layar). Bulan di atas Sombaopu adalah benda langit yang selalu diminatinya. Sejak kanak-kanak ia memang sering mengamatinya dengan mata telanjang. Kebutuhan menghitung hari-hari penting Islam dan mencatat peristiwa penting kerajaan dalam kronik lontara yang tak ada tandingannya di Nusantara, membuatnya kian akrab dengan benda itu. Tapi mata telanjang bukanlah tandingan teleskop.

Setahun setelah kedatangan bola dunia, tibalah di Makassar sebuah radas ilmiah yang mengubah sejarah astronomi dunia: teleskop prospektif Galileo. Itu adalah hasil dari upaya KP pada tahun 1635 meyakinkan raja sebelumnya, untuk membuat kesultanan Gowa memiliki teleskop terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Gowa perlu mendekatkan jarak langit.

Saya bayangkan di lensa pengintip itu, mata KP menjelajahi bulan yang awalnya dilakukannya dengan setengah berdebar. Ia mencari lagi di permukaan itu jejak-jejak Tumanurunga ri Tamalate, bidadari yang konon diturunkan dari khayangan dan menjadi cikal-bakal kerajaan Gowa. Seperti diduganya, jejak itu tak ia temukan. Ia lalu memusatkan diri pada penampakan fisik bulan yang menyedot perhatiannya cukup lama. Tergerakkah ia menggambar secara tepat permukaan bulan? Di Jerman, Johannes Hevalius oleh sejarah sains Eropa dicatat mulai membuat peta-peta akurat permukaan bulan di sekitar tahun KP mengarahkan teleskopnya ke lazuardi.

Hampir pasti KP tergerak menyusun peta lunar. Itu membuatnya mengamati bulan lebih intens. Tiba-tiba ia teringat kembali pada sebuah bulan lain sekian tahun yang silam, sebuah purnama yang bersinar di atas Bone. Di Oktober 1643 itu, KP sedang memimpin balatentara Makassar sebanyak 40.000 parajurit.

220-an tahun sebelum Abraham Lincoln mencantolkan isu abolisi perbudakan dalam Perang Saudara Amerika Serikat, Raja Bone XIII La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh sudah mengobarkan perang pembebasan budak yang barangkali kasus pertama di Asia Timur dan Tenggara. Dulu, Ayahanda KP, Karaeng Matoaya Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga ri Agamanna, mendatangi Bone beserta seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan dan mengajaknya masuk Islam. Alasannya adalah bahwa agama dan sistem nilai lama tak akan cukup memadai menopang kerajaan-kerajaan tersebut menghadapi perubahan-perubahan besar yang datang menderu dari luar. Begitu La Ma’daremmeng naik tahta, ia bergerak lebih jauh dari Matoaya dan menginginkan ajaran Nabi dilaksanakan setuntasnya. Meski sangat vital bagi kehidupan sosial ekonomi kerajaan, perbudakan harus dihapuskan. Negeri-negeri jazirah selatan Sulawesi yang masih mempertahankan perbudakan, harus diperangi, termasuk Gowa.

Awalnya Gowa ragu menghadapi sepak terjang Bone yang sangat keras, kendati sejumlah bangsawan pelarian Bugis telah mendesak Sombaopu mengambil tindakan. Di antara para pelarian itu, adalah We Tenrisoloreng Datu Pattiro, ibunda La Ma’daremmeng, yang terpaksa hijrah sebagai bentuk penentangan atas aturan tanpa kompromi anandanya. KP kemudian mengirim utusan untuk memperoleh kepastian apakah aturan keras penghapusan budak itu memang mengikuti seruan Nabi, ataukah sekedar keputusan La Ma’daremmeng pribadi. Kegagalan Bone menjawab hal ini, membuat KP berangkat memimpin pasukan besar yang terbentuk dari gabungan balatentara Gowa, Wajo, Soppeng dan Sidenreng. Dan setelah sekian ratus malam yang penuh cahaya, setelah sejumlah pertempuran ganas yang melelahkan, pasukan besar itu akhirnya menaklukkan Bone dan menawan La ma’daremmeng, sebuah kekalahan besar yang dalam kronik Bone dicatat sebagai awal dari diperhambanya Bone selama 17 tahun. Kelak kesultanan Bugis terbesar itu, dipimpin oleh Arung Palakka Sang Raja Berambut Panjang, memanfaatkan kulminasi perseteruan Gowa dengan Belanda untuk membebaskan diri dari kekuasaan Sombaopu.

Puas mengamati purnama, KP mengarahkan teleskopnya ke bintik-bintik cahaya yang lain. Lensa itu membuatnya kian sadar bahwa langit malam bukanlah sekedar kegelapan raksasa yang diperindah kelap-kelip cahaya. Langit malam adalah kehidupan yang disusun dari perubahan dan keteraturan. Semua benda langit bergerak menggeser letaknya, mengubah susunan dan konstelasinya, dalam keteraturan yang kekal, yang menjadi sahabat sejati lunas phinisi melintasi abad demi abad.

Beberapa cahaya di langit sudah dikenal baik para peniti gelombang. Cahaya yang masuk ke dalam teleskop KP, menghadirkan sejumlah kawan baru yang dulu tak bisa dilihatnya tegas dengan mata telanjang. Terlihatkah Io, Europa, Ganymede dan Callisto – bulan-bulan Yupiter yang ditemukan Galileo Galilei 40 tahun sebelumnya? Terlihat jugakah olehnya Konstelasi Cassiopeia yang ditemukan Brahe pada 1572? Bagaimana dengan Nebula Orion atau Neptunus? Sukakah ia pada konstelasi zodiak yang peta langitnya disusun Jodocus Hondius pada 1615?

Sebagian besar benda langit saat itu belum beroleh nama seperti yang dinomenklaturkan kini. Akan dinamai apakah benda-benda yang baru dikenalnya itu? Memberi nama bukanlah sekedar sebuah tindak taksonomis untuk membedakan sebuah benda dengan yang lainnya sekaligus memberinya tempat dalam tatanan benda-benda. Nama yang disematkan adalah ekstensi dari diri si pemberi nama, sejarah dan kebudayaannya, aspirasi-aspirasinya yang paling dalam, harapan-harapannya yang paling membubung: tindakan esensial pembangunan dunia simbolik yang mengukuhkan posisi pemberi nama di tengah semesta.

Pemberian nama selalu bermula dengan pengenalan, dan pengenalan yang mendalam menuntut perhatian panjang. Tetapi data perubahan yang dikumpulkan lewat waktu dan radas ilmiah yang mahal, bisa sekadar menjadi tumpukan tanpa arti. Kekuatannya akan muncul hanya bila ditata oleh dua hal: sistem logika formal yang diekspresikan dalam geometri Euklides dan jalinan hubungan sebab-akibat yang ditegaskan dalam eksperimen sistematik. Metode penggabungan data inderawi dengan logika dan eksperimen ini dirumuskan oleh Bapak Empirisme Francis Bacon di abad yang sama dengan KP, sang makhluk pertama di Asia Tenggara yang memahami makna matematika dalam ilmu-ilmu terapan. Kelak metode penggabungan itu terbukti menjadi jantung kekuatan sains dan teknologi mengubah dunia ke tataran yang sama sekali baru.

Tak inginkah KP membagi sensasi intelektual yang merekah lewat pertemuan dan pengenalan antara dirinya dengan benda-benda langit itu? Menilik semangatnya menyebarkan pengetahuan militer dan, sebelum jadi perdana menteri, membujuk Sultan membeli radas ilmiah mahal, bisa disimpulkan: ia ingin. Itu artinya ia harus membangun institusi – mungkin menjadikan menara Maccini’ Sombala semacam observatorium umum. Segala instrumen ilmiah yang mahal, masih bisa dibeli selama perdagangan bebas tegak di lautan. Dari sini, perlu sejumlah langkah lagi ke institusi semacam Royal Society London atau Académie des Sciences Paris. Dua organisasi yang ikut jadi kunci supremasi Eropa itu, diresmikan oleh Charles II dan Louis XIV belasan tahun setelah KP menghabiskan malamnya dengan teleskop di Maccini’ Sombala.

Untuk kesekian kali, teleskop KP kembali ke bulan. Benda terbesar di langit malam itu mengingatkannya lagi pada Tumanurunga ri Tamalate. Saya bayangkan ia merenungkan percakapan Tumanurunga dengan raja-raja kecil Bate Salapanga. Itu sebuah kontrak sosial politik yang unik dalam sejarah Nusantara. Sebuah kontrak yang membentuk Gowa-Tallo dari federasi sembilan negeri. Prihatinkah ia pada apa yang terjadi dengan Bate Salapanga? Awalnya lembaga ini adalah lembaga perwakilan rakyat. Tapi perlahan-lahan ia merosot menjadi sekedar perangkat kerajaan. Para anggotanya tak punya wewenang membuat undang-undang dan peraturan. Mereka tak dapat menjalankan pemerintahan di seluruh kerajaan dan harus tunduk menjalankan segala perintah raja. Bahkan belakangan mereka pun tak lagi menjadi badan penasehat. Raja memerintah secara mutlak yang sabdanya merupakan undang-undang.

Terpikirkah oleh KP bahwa sebulan setelah kematiannya, sebagai penguasa baru, Sultan Hasanuddin – karena sejumlah pertimbangan, terutama mungkin kemudahan mengeksekusi kebijakan – menetapkan bahwa dirinya sendirilah yang merangkap perdana menteri? Tindakan itu mengakhiri sebuah aturan quasi-konstitusional pembagian kekuasaan dalam kerajaan kembar Gowa-Tallo, pembagian yang dalam sejarah kelak terbukti sebagai dasar kokoh kebesaran kesultanan maritim itu.

Belasan tahun setelah sentralisasi kekuasaan dan kematian KP, menara Maccini’ Sombala dan kompleks istana Sombaopu akhirnya memang jatuh ke tangan balatentara sekutu Belanda, Bone, Buton dan Ternate. Bahkan ketika KP masih hidup, konstelasi dan dinamika ekonomi politik Nusantara yang antara lain memarakkan penyelundupan dan strategi harga selektif oleh para pedagang lokal yang menampik monopoli VOC, membuat Sombaopu menjadi kota di mana harga rempah-rempah menjadi paling murah di dunia, lebih murah dibanding di Maluku sendiri. Karena larangan berdagang di Sombaopu, Belanda harus mendapatkan komoditas vital ini di tempat lain dengan harga yang lebih mahal. Ini membuat segenap upaya besar puluhan tahun Belanda menaklukkan Tanjung Harapan, Srilangka, Malaka dan Batavia untuk menguasai jalur rempah-rempah, menjadi kesia-siaan yang memalukan. Bangsa-bangsa lain, termasuk musuh-musuh tradisional Belanda di Eropa, tak perlu mengorbankan habis armada dan prajurit untuk mendapatkan rempah-rempah dan komoditas penting lain yang lebih murah di Sombaopu.

Jika kita percaya bahwa rempah-rempahlah yang menggerakkan gelombang besar penemuan benua-benua baru yang kelak mengeras menjadi imperialisme dan kolonialisme itu, maka dengan ringkas bisa dibilang bahwa persis di depan gelombang besar inilah Makassar membentangkan dadanya. Di pertengahan abad ke 17 itu, bukan Eropa sang penakluk dunia, juga bukan Maluku pulau rempah-rempah, melainkan Gowa yang pada akhirnya menentukan harga rempah-rempah di Bumi. Upaya akbar berabad-abad dan penuh darah untuk menguasai jalur maritim dunia, menjadi tak ada artinya selama Makassar dan benteng istana Sombaopu masih menegakkan supremasi.

Benteng istana paling perkasa yang pernah dibangun di Nusantara itu, hanya dapat direbut adidaya dunia abad 17 dengan sekutunya melalui pertempuran teramat berat yang oleh prajurit-prajurit senior Belanda, sebagian di antaranya veteran Perang 80 Tahun yang dahsyat itu, digambarkan sebagai pertempuran yang bahkan tak pernah terjadi di sejarah Eropa sendiri. Bersama ratusan pucuk meriam – yang pembuatannya dimungkinkan oleh kengototan KP – di antaranya Anak Makassar, konon meriam terbesar yang pernah dibikin di Nusantara, Gowa beberapa kali nyaris menumpas Sekutu. Antara lain akibat sekian pengkhianatan dari dalam, Makassar akhirnya hanya bisa mempersembahkan pada Belanda dan sekutunya sebuah perang yang paling brutal dan paling dahsyat yang pernah dilakukan VOC di dunia sejak didirikan. Para panglima Makassar yang belum puas dengan persembahan itu dan tak menerima sikap takluk istana, Seperti Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu, menyebar keluar melanjutkan perang di laut dan daratan yang lain.

8 tahun setelah wafatnya KP yang dimakamkan di Bonto Biraeng, terbit Atlas Maior Joan Blaeu. Dengan 600 halaman rangkap peta dan 3000 halaman naskah, karya ini menjadi pencapaian kartografis-artistik yang sampai kini tak tertandingi. Pada bagian Peta Dunia, terlihat dua sosok besar (gbr.1). Di hemisfer Barat tampaknya nabi kartografi dunia modern awal: Mercator. Di langit Timur, di atas Asia, tampak KP tengah menetapkan jarak Celebes dari Kutub Utara. Dua pemikir yang dengan caranya sendiri menyusun dunia, kini bekerja di langit, di antara dewa-dewi mitologis Yunani Purba, di antara planet-planet Tatasurya.

Pustaka:
- Anthony Reid, Charting The Shape Of Early Modern Southeast Asia (Chiang Mai: Silkworm Books, 1999)
- Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta: Gramedia, 1996)
- Sagimun MD, Sultan Hasanuddin (Jakarta: Balai Pustaka, 1992).

http://www.facebook.com/mohd.fajrin?v=app_2347471856&ref=name#/note.php?note_id=137063205949

Friday, December 05, 2008

Sejarah Kerajaan Mempawah

Asal Muasal Kerajaan Mempawah

Berawal Dari Bangkule Rajank

Kerajaan Mempawah banyak dikenal orang karena pemerintahan raja Opu Daeng Menambon pada 1737-1761. Namun, kerajaan ini sebelumnya sudah ada jauh sebelumnya, sekitar 1380.

Pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri di pegunungan Sadaniang. Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah kerajaan suku Dayak, yang dipimpin oleh Raja Patih Gumantar.

Nama kerajaannya adalah Bangkule Rajank, dengan ibukota yang ditetapkan di Sadaniang. Kerajaan tersebut lebih terkenal dengan nama kerajaanSadaniang, yang menjadi pusat pemerintahan pada saat itu.

Kejayaan kerajaan Bangkule Rajank membuat Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung ingin menguasainya. Perangpun timbul untuk merebut kekuasaan dari tangan Patih Gumantar.

Peperangan kala itu dilakukan dengan cara Kayau (memenggal kepala manusia). Serangan yang tiba-tiba dari kerajaan Bidayuh, membuat Patih Gumantar mengalami kekalahan. Raja yang terkenal gagah berani itu, meninggal akibat terkayau oleh lawannya.

Sejak kematian Patih Gumantar, perlahan-lahan kerajaan Bangkule Rajank mengalami kehancuran. Namun, kerajan ini bangkit kembali sekitar 1610 di bawah pimpinan Raja Kudong.

Kerajaan yang baru terisi oleh Raja Kudong setelah terjadinya perang Kayau, merupakan kepemimpinan baru yang bukan berasal dari keturunan Patih Gumantar. Ia memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Pekana (sekarang dinamakan Karangan).

Pengganti Raja Kudong adalah Raja Senggaok yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senggaok. Pusat pemerintahanpun berpindah lagi ke Senggaok (hulu sungai Mempawah). Raja ini menikahi seorang putri Raja Qahar dari kerajaan Baturizal Indragiri, Sumatera, yang bernama Puteri Cermin.

Ketika mereka menikah, seorang tukang nujum meramal kehidupan mereka. Tukang nujum mengatakan, bila Panembahan Senggaok dan Puteri Cermin melahirkan seorang putri, maka kerajaan nantinya akan diperintah oleh raja yang berasal dari kerajaan lain.

Hasil pernikahan tersebut melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Mas Indrawati. Ketika putri mahkota beranjak dewasa, ia menikah dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari kerajaan Matan (Ketapang).

Mas Indrawati melahirkan seorang putri yang berparas cantik. Sultan Muhammad Zainuddin menamai anaknya itu Putri Kesumba, yang akhirnya menikah dengan Opu Daeng Menambon.




Raja Seorang Pelaut

Opu Daeng Menambon bukanlah orang Kalimantan asli. Ia beserta empat orang adiknya berasal dari kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Mereka terkenal sebagai pelaut yang handal dan merantau keluar dari tanah kelahirannya.

Lautan yang mereka arungi antara lain Banjarmasin, Betawi, berkeliling hingga Johor, Riau, Semenanjung Melaka. Selama mengarungi lautan, mereka banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang mengalami kesulitan.

Bantuan yang mereka lakukan tersebut berbentuk membantu kerajaan kecil berperang, baik perang saudara maupun diserang oleh kerajaan lain. Seringnya mereka memenangi peperangan mengakibatkan mereka dikenal banyak orang dan kerajaan.

Merekapun sampai di daerah Kerajaan Tanjungpura (Matan), yang sedang mengalami perang saudara. Penyebab perang tersebut adalah Sultan Muhammad Zainuddin diserang oleh adik kandungnya yang bernama Pangeran Agung.

Pemberontakan dan perampasan tahta kerajaan oleh Pangeran Agung berhasil dipadamkan oleh Opu Daeng Menambon beserta adiknya. Bahkan, Opu Daeng Menambon boleh mempersunting Putri Kesumba. Mereka dikaruniai sepuluh anak, diantaranya adalah Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya.

Sekitar tahun 1740, Opu Daeng Menambon dan istrinya menuju ke Mempawah. Merekapun mengunjungi Senggaok dan dilakukan serah terima pemerintahan dari Pangeran Adipati kepada Opu Daeng Menambon. Pusat kerajaan dipindahkan ke Sebukit Rama (sekitar 10 kilometer dari Kota Mempawah).

Opu Daeng Menambon dikenal sebagai raja yang bijaksana. Penduduknya beragama Islam dan taat. Ia selalu bermusyawarah dengan bawahannya dalam memecahkan segala persoalan yang terjadi di kerajaannya.



Gusti Jati Pendiri Kota Mempawah

Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya merupakan penerus tahta kerajaan Mempawah setelah Opu Daeng Menambon meninggal dunia pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Masa kepemimpinan Gusti Jamiril membawa kemakmuran wilayah kerajaan yang dikuasainya.

Masa keemasan Gusti Amiril tersebut, bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Bahkan, kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Hal itu disebabkan, raja Mempawah diisukan membenci dan akan memberontak pemerintahan Hindia Belanda.

Kabar tersebut membuat Belanda murka dan mengirimkan tentara prajurit yang bermarkas di Pontianak untuk menyerbu kerajaan Mempawah. Gusti Amiril yang mengetahui adanya penyerbuan, memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Karangan.

Akibat sulitnya medan perjalanan dari Mempawah menuju Karangan, gerakan pasukan Belanda menjadi lamban dan gagal. Kebencian Panembahan Adijaya Kesuma Jaya semakin menjadi kepada Belanda.

Selama hayatnya, Gusti Jamiril berusaha untuk mengusir penjajah Belanda. Bahkan, sebelum meninggal, ia berpesan apabila meninggal dunia, dirinya tidak rela dikebumikan ke luar dari Karangan.

Jabatan raja sepeninggal Gusti Jamiril dipimpin oleh anaknya, Gusti Jati yang bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin. Kedudukan Gusti Jati yang berada di Mempawah, dipercaya sebagai pendiri Kota Mempawah.

Kedudukan Gusti Jati digantikan oleh adiknya yang bernama Gusti Amir dan bergelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin. Setelah Gusti Amir wafat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Panembahan Mukmin.

Namun, usai penobatan kerajaan dilakukan, Panembahan Mukmin meninggal dunia. Iapun dikenal dengan sebutan Raja Sehari. Karena putranya masih kecil dan dirasa belum mampu mengurus kerajaan, penerus kepemimpinan kerajaan diserahkan kepada adiknya, Gusti Mahmud, yang bergelar Panembahan Muda Mahmud.

Wafatnya Gusti Mahmud digantikan oleh putra Panembahan Mukmin yang bernama Panembahan Usman dan bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma. Ia mangkat pada 6 Jumadil, awal 1280 Hijriah, dan dimakamkan di Pulau Pedalaman.



Perjuangan Melawan Penjajah

Selepas Panembahan Usman wafat, tampuk kepemimpinan Kerajaan Mempawah dipegang oleh putra Panembahan Muda Mahmud bernama Panembahan Ibrahim Muhammad Tsaifuddin. Masa pemerintahannya inilah, pennindasan penjahan Belanda merajalela dan mengakibatkan masyarakat menderita.

Tak tahan ditindas, masyarakat mulai mengadakan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Terlebih, dengan diberlakukannya pembayaran pajak oleh masyarakat dengan cara pemaksaan.

Pemberontakan dilakukan oleh suku Dayak. Peperangan tersebut dikenal dengan nama perang Sangking, hingga mayarakat banyak merasa antipati dengan keberadaan Belanda di tanah kerajaan Mempawah.

Setelah Panembahan Ibrahim Muhammad Tsaifuddin wafat, pimpinan kerajaan yang semula akan diberikan kepada putranya, Gusti Muhammad Taufik. Tetapi, putranya tersebut belum dewasa, hingga kerajaan dipimpin sementara oleh Pangeran Ratu Suri, kakak dari Gusti Muhammad Taufik.

Pada 1902 masehi, Gusti Muhammad Taufik dirasakan sudah cukup umur untuk memimpin kerajaan. Iapun naik tahta dan bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Ia ditawan oleh Belanda bersama raja-raja daerah lainnya serta para pemimpin pemuka masyarakat.

Lepas dari tawanan Belanda, Gusti Muhammad Taufik diculik oleh penjajah Jepang. Bersama para tokoh masyarakat yang diculik, ia dibunuh. Lokasi pembunuhan sekaligus tempat pemakaman terjadi di Mandor.

Gusti Muhammad Taufik meninggalkan empat orang anak. Yakni Pangeran Mohammad atau yang saat ini dikenal bernama Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim, Pangeran Faitsal Taufik, Pangeran Abdullah, dan Pangeran Ratu Hajjah Thaufiqiyah Mohammad Taufik.

Pada masa itu, dibentuklah Bestuur Komisi sebagai pengganti raja yang diketuai oleh Pangeran Wiranata Kesuma (1944-1946).



Akhir Kepemimpinan Kerajaan Mempawah

Sebelum pendaratan pasukan sekutu di Kalimantan Barat, Pangeran Mohammad yang baru berumur 13 tahun pernah diangkat menjadi panembahan (tokoh) Mempawah oleh pemerintah bala tentara Jepang dalam suatu upacara di depan gedung Kerapatan.

Tokoh-tokoh masyarakat kemudian melakukan lagi upacara penobatan yang sama pada tahun 1946. Tahun ini pula Belanda (NICA) datang lagi ke Mempawah dan mencoba mengangkat raja kembali.

Karena Panembahan Pangeran Mohammad (Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim) belum dewasa dan ingin melanjutkan sekolahnya yang baru duduk di kelas VSD (Jokio Ko Gakko), ia tidak bersedia diangkat kembali.

Pengganti Pangeran Mohammad adalah Gusti Musta�an yang menjadi raja sementara bergelar �wakil panembahan� hingga tahun 1955. Meskipun sudah pernah dinobatkan secara formal menjadi Panembahan dan sudah dewasa, Pangeran Mohammad menyatakan tidak bersedia menggantikan ayahnya sebagai raja.

Penolakan tersebut dikarenakan dirinya ingin terus melanjutkan pendidikannya di perguruan tingga Gadjah Mada Yogyakarta. Keputusannya itu mengakhiri kepemimpinan kerajaan Mempawah.

Sejak berdirinya kerajaan Mempawah hingga berakhirnya masa kepemimpinan berakhir, kerajaan sudah mengalami perpindahan pusat kerajaan sebanyak lima kali. Yakni pegunungan Sadaniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, dan Mempawah.

Raja yang memimpin kerajaan Mempawah dibagi dalam dua zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Zaman Hindu dipimpin oleh tiga raja, sedangkan zaman Islam dipimpin oleh 13 raja.

Raja zaman Hindu adalah Patih Gumantar, Raja Kudong, dan Panembahan Senggaok. Raja zaman Islam adalah Opu Daeng Menambon, Gusti Jamiril, Syarif Kasim, Syarif Husein, Gusti Jati, Gusti Amir, Gusti Mukmin, Gusti Mahmud, Gusti Usman, Gusti Ibrahim, Muhammad Tsafiudin, Drs Gusti H Jimmi Muhammad Ibrahim, dan Ir Mardan Adijaya M Sc P Hd.



Sumber : Mempawah Tempoe Doeloe


 
Blogger Templates